Friday, August 19, 2011

Gundul-Gundul Pacul, Sebuah Filosofi |

Untuk mengingatkan kembali kepada masa kecil kita semua, saya cuplikkan beberapa baris syair dari lagu Gundul-Gundul Pacul,

"Gundul gundul pacul-cul, gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar...
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar...
Tembang (baca: lagu) ini konon diciptakan ditahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya ---yang kala itu masih remaja, sebagai bentuk sindiran untuk penguasa pada masa itu (peralihan Majapahit - Demak/Mataram Islam) dimana para penguasa sudah tidak mempedulikan kesengsaraan rakyatnya. Jika kita cermati setiap baris dalam syairnya memiliki makna yang sangat dalam dan mulia.

Pada masa itu para Waliullah menggunakan media kesenian tradisional yang berkembang di masyarakat setempat untuk melakukan syiar Islam. Begitu pula Sunan Kalijaga yang menggunakan media wayang, dolanan, tetembangan, serta tradisi-tradisi yang dianut masyarakat seperti sekaten dan grebeg yang masih bisa kita jumpai di lingkungan Kasultanan Yogyakarta dan Surakarta.

Gundul adalah kepala tanpa rambut, dimana kepala merupakan lambang kehormatan dan kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota yang melambangkan keindahan. Sehingga secara harfiah dapat diartikan gundul adalah kehormatan tanpa mahkota.
Sedangkan pacul dalam bahasa Indonesia cangkul, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia1 yaitu alat untuk menggali dan mengaduk tanah, dibuat dr lempeng besi dan diberi tangkai panjang untuk pegangan. Pacul melambangkan kawula alit atau masyarakat biasa yang kala itu kebanyakan adalah petani.

Dari pengertian di atas, gundul pacul memberikan pengertian bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukanlah orang yang diberi mahkota (dimahkotai) melainkan si pembawa pacul untuk mencangkul ---mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Dalam filosofi masyarakat Jawa dikatakan bahwa pacul tersusun atas kata papat kang ucul ---4 hal yang lepas, dimana kemuliaan seseorang tergantung pada 4 hal, yaitu bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga, dan mulutnya.

  1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
  2. Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
  3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
  4. Mulut digunakan untuk berkata adil dan bijaksana.
Apabila empat hal tersebut di atas itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.

Gembelengan secara harfiah artinya besar kepala, sombong, dan cenderung bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.

Kesimpulan dari filosofi lagu Gundul-Gundul Pacul ini adalah sebagai berikut:
Manusia adalah khalifah (pemimpin) dibumi, dan seorang pemimpin harus dapat dan mampu untuk melihat kesulitan yang dipimpinnya, mau mendengarkan nasihat dari siapa saja, dapat mencium dan membedakan antara aroma kebaikan maupun hal buruk yang berkedok kebaikan, serta memiliki mata hati untuk melihat kebenaran dan bertindak adil.

Jika "Pacul" ini lepas maka lepaslah kehormatan seorang pemimpin, seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Dan apabila seorang pemimpin kehilangan "Pacul"nya, maka dia kaan menjadi pemimpin yang "Gembelengan", sombong, egois dan sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya, dan tidak mampu lagi untuk menjunjung amanah rakyat, tidak mampu "Nyunggi Wakul".

Wakul adalah tempat nasi, nasi adalah salah satu kebutuhan pokok, dimana kesejahteraan rakyat adalah terpenuhinya kebutuhan pokoknya, dan saat pemimpin sudah tidak mampu lagi me-nyunggi wakul, maka wakul ngglimpang.tempat nasi itupun akan terjatuh, amanah rakyat akan tersia-siakan, "segane dadi sak latar" nasi bertebaran ditanah tanpa bisa dimakan dan tidak bermanfaat bagi kesejahteraan rakyatnya.

---
Disarikan dari berbagai sumber dengan perubahan seperlunya.
Original post form Undercover Manager Forum.
1) http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php

Labels: